Ratu Tribhuwana Tunggadewi adalah Gerbang Emas dari Kerajaan Majapahit
Gerbang Emas dari Kerajaan Majapahit
“Sejarah mungkin mengenang raja dan pahlawan,
tapi di balik kejayaan Majapahit… ada seorang ratu yang menyalakan api tanpa membakar. Tribhuwana Tunggadewi — sang pelita di zaman yang sedang mencari terang. Karena sejatinya… kebijaksanaan adalah mahkota sejati.”
“Di tengah kebangkitan sebuah kerajaan muda bernama Majapahit, lahirlah seorang putri Namanya kelak dikenal sebagai Tribhuwana Wijayatunggadewi — perempuan yang ditakdirkan menyalakan cahaya di balik singgasana.”
Asal Usul dan Masa Kecil
Tribhuwana Wijayatunggadewi Pemimpin dari kerajaan Majapahit.
Tribhuwana lahir sekitar awal abad ke-14 M di istana Majapahit. (perkiraan 1300–1309 M). Nama lengkapnya adalah Dyah Gitarja, putri dari Raden Wijaya (pendiri Kerajaan Majapahit) dan Sri Gayatri Rajapatni (putri Raja Kertanegara dari Singasari).
Pendidikan dan Pembentukan Karakter
Walau tidak tercatat secara langsung, para putri kerajaan pada masa itu (terutama keturunan Kertanegara) dididik dalam:
Ibunya, Gayatri Rajapatni, dikenal sebagai perempuan bijaksana, mantan bhiksuni, dan penasihat spiritual di istana.
Dari Gayatri inilah Tribhuwana belajar nilai kepemimpinan yang berlandaskan kebijaksanaan, bukan hanya kekuasaan.
“Ia lahir dari darah yang pernah mengguncang takhta,
tapi justru menulis babak paling damai dalam sejarahnya"
Filsafat dan Agama (Siwa-Buddha Sinkretik), Sastra Jawa Kuno, Kepemimpinan dan Tata Negara, serta Diplomasi dan Etika Istana, Prasada (keteguhan), Upaya (pengetahuan dan strategi), Siwi (dedikasi terhadap rakyat), Memperkuat stabilitas dinasti., Mengikat hubungan antar kekuatan bangsawan wilayah inti Jawa. Dyah Hayam Wuruk → Kelak menjadi raja terbesar Majapahit.
Raja kedua, Jayanegara, naik tahta namun tak memiliki keturunan. Setelah raja Jayanegara wafat tragis, (kakak tirinya), Majapahit mengalami kekosongan kekuasaan. muncul pertanyaan besar: siapa yang pantas menggantikannya? Gayatri Rajapatni (ibunya) adalah istri sah pendiri Majapahit yang masih hidup. Ia seharusnya menjadi penguasa, tapi sudah menjadi bhiksuni, sehingga tidak dapat memerintah.
“Saat Majapahit kehilangan rajanya, suasana istana berubah menjadi sunyi yang penuh tanya. Gayatri Rajapatni, pewaris sejati tahta, telah menjadi bhiksuni. Ia tak bisa memerintah. Maka ia menunjuk putrinya — Tribhuwana — untuk memimpin atas namanya. Bukan karena garis darah semata, tapi karena kebijaksanaan yang ia lihat di mata putrinya.”
Namun, setelah ayahnya (Raden Wijaya) wafat, Tahun naik tahta: 1328 M (perkiraan 1329/1330 M menurut sebagian ahli). Majapahit sempat mengalami periode suksesi rumit:
Secara struktur: Gayatri Rajapatni (ibunya) adalah istri sah pendiri Majapahit yang masih hidup. Ia seharusnya menjadi penguasa, tapi sudah menjadi bhiksuni, sehingga tidak dapat memerintah.
Gayatri menunjuk Gitarja (Tribhuwana) menjadi ratu atas titahnya.
Sejak naik tahta, ia memakai gelar agung:
Tribhuwana Wijayatunggadewi berarti “Dewi Kemenangan yang Menguasai Tiga Dunia.” Ini bukan gelar simbolis — ini menandakan legitimasi spiritual raja-dewi ala Singasari.
Dalam prasasti, Tribhuwana sering disebut “yang memerintah atas titah ibunya, Sang Rajapatni.” Langkah ini bukan sekadar keputusan keluarga — tapi keputusan strategis: Gayatri tahu bahwa Majapahit membutuhkan pemimpin berwibawa, tenang, dan cerdas, bukan hanya pewaris darah semata. Tribhuwana memenuhi semua itu: berilmu, berkarisma, dan diterima kalangan bangsawan serta rohaniwan.
Dewasa dan Pernikahan Politik
Ketika dewasa, Tribhuwana menikah dengan Kertawardhana (Sri Kertawardhana) / Cakradhara, bangsawan penting Majapahit dari wangsa Bhre Tumapel.
Pernikahan ini memperkuat hubungan politik antar keluarga bangsawan, menjaga stabilitas internal kerajaan yang masih muda.
Pernikahan ini memiliki hubungan politik:
Memperkuat stabilitas dinasti. Mengikat hubungan antarkekuatan bangsawan wilayah inti Jawa. Perkawinan mereka melahirkan: Dyah Hayam Wuruk →
Kelak menjadi raja terbesar Majapahit.
MASA PEMERINTAHAN — SANG RATU BIJAK
“Tribhuwana memimpin bukan dengan pedang, tapi dengan visi.
Ia menunjuk Gajah Mada sebagai mahapatih — keputusan yang menyalakan Sumpah Palapa dan membuka jalan bagi persatuan Nusantara.
Di bawah kepemimpinannya, Majapahit menaklukkan Bali, menguasai lautan rempah, dan menegakkan nama Nusantara di peta dunia.
Tapi di balik segala kebesaran itu, ia tetap sama — perempuan yang percaya bahwa kekuatan sejati lahir dari kebijaksanaan.”
ratu Majapahit ini Sebagai salah satu pemimpin perempuan paling berpengaruh dalam sejarah Nusantara, Ia juga bergelar Bhre Kahuripan (Adipati Wanita dari Kahuripan).
Inilah periode penting dalam sejarah Majapahit.
Di bawah kepemimpinannya, kerajaan memasuki masa stabil dan ekspansif.
Keputusan Paling Besar: Pengangkatan Gajah Mada.
Pada masa Tribhuwana, terjadi peristiwa monumental: Gajah Mada diangkat sebagai Mahapatih Amangkubhumi.
Refleksi Kepemimpinan
Menariknya, masa pemerintahannya menjadi masa paling stabil dalam sejarah awal Majapahit. Di bawah kepemimpinannya, Gajah Mada diangkat, ekspansi dimulai, dan struktur pemerintahan diperkuat.
Ia membawa aura kepemimpinan yang feminin namun visioner, menyeimbangkan politik, moralitas, dan spiritualitas.
Tribhuwana bukan hanya putri tahta — ia adalah putri kebijaksanaan.
Dan mungkin itulah alasan sejati mengapa sejarah menempatkannya di tengah
kebesaran Majapahit.
Momentum pengangkatan Tribhuwana ini memberi kepercayaan penuh kepada Gajah Mada, sebuah keputusan yang mengubah sejarah Asia Tenggara.
Menurut Nagarakretagama, Tribhuwana memerintah didampingi suaminya, Kertawardhana. Pada tahun 1331, Tribhuwana menumpas pemberontakan daerah Sadeng dan Keta. Menurut Pararaton terjadi persaingan antara Gajah Mada dan Ra Kembar dalam memperebutkan posisi panglima penumpasan Sadeng-Keta. Maka, Tribhuwana pun memutuskan dirinya sendiri sebagai panglima perang untuk menumpas pemberontakan Sadeng-Keta didampingi Gajah Mada, Ra Kembar dan sepupunya, Adityawarman yang pada saat itu menjabat sebagai Wreddhamantri, atau perdana menteri.
Ekspansi Majapahit
Pemerintahan Tribhuwana terkenal sebagai masa perluasan wilayah/ekspansi Majapahit ke segala arah yang dipimpin oleh Gajah Mada sebagai pelaksanaan Sumpah Palapa. Pada tahun 1343, Majapahit mengirim 'Arya Damar' mengalahkan raja Kerajaan Pejeng, Dalem Bedahulu, dan kemudian seluruh Bali.
Pada tahun 1347, 'Adityawarman' yang masih keturunan Melayu dikirim untuk menaklukkan sisa-sisa Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Malayu. Ia kemudian menjadi uparaja (raja bawahan) Majapahit sebagai penguasa di seluruh wilayah Sumatra. Perluasan Majapahit dilanjutkan pada masa pemerintahan Hayam Wuruk, di mana wilayahnya hingga mencapai Lamuri di ujung barat sampai Wanin di ujung timur.
Dampak Kelam & Bayangan Pemerintahan
Meski era emas, ada sisi gelap: Namun ini adalah dampak struktural kerajaan agraris-maritim pada zamannya, bukan keputusannya secara pribadi.
Turun Takhta (1350 M)
Tribhuwana turun tahta bukan karena konflik, tetapi karena:Tahta diberikan kepada:
Putranya, Hayam Wuruk
yang akan membawa Majapahit ke masa kejayaan tertinggi.
Tribhuwana kemudian memakai gelar: Ia tetap aktif dalam politik sebagai sesepuh dan penasihat kerajaan.
Tahun-Tahun Terakhir
Setelah tidak menjadi ratu, Tribhuwana: Ia dihormati sebagai ibu negara dan “permata wangsa Rajapatni.”
Akhir hayat
Menurut Nagarakretagama, Tribhuwana Wijayatunggadewi diperkirakan turun takhta tahun 1350 bersamaan dengan kematian Gayatri. Namun, prasasti Singasari menyebutkan bahwa informasi tersebut kurang tepat karena ia masih memerintah hingga tahun 1351.
Ia kemudian kembali menjadi Bhre Kahuripan yang tergabung dalam Saptaprabhu, yaitu semacam dewan pertimbangan agung yang beranggotakan keluarga kerajaan. Adapun yang menjadi raja Majapahit selanjutnya adalah putranya, yaitu Hayam Wuruk.
Tidak diketahui dengan pasti kapan tahun kematian Tribhuwana. Pararaton hanya memberitakan Bhre Kahuripan tersebut meninggal dunia setelah pengangkatan Gajah Enggon sebagai patih pada tahun 1371.
Menurut Pararaton, Tribhuwanatunggadewi didharmakan dalam candi Pantarapura yang terletak di desa Panggih. Sementara suaminya, yaitu Kertawardhana Bhre Tumapel meninggal tahun 1386 dan didharmakan di candi Sarwa Jayapurwa, yang terletak di desa Japan. Setelah wafat.
Warisan Sejarah
Warisan Tribhuwana sangat besar: Sejarawan sering menyebut masa pemerintahannya sebagai:
Ratu Tribhuwana Wijayatunggadewi Gerbang Emas dari Kerajaan Majapahit
Tribhuwana Wijayatunggadewi meletakkan fondasi yang kuat untuk kejayaan Majapahit yang kemudian mencapai puncaknya di masa pemerintahan putranya, yaitu Hayam Wuruk.
Prestasinya dalam membangun stabilitas politik, mengembangkan ekonomi, dan memperluas wilayah membuat Majapahit bertransformasi dari kerajaan regional menjadi kekuatan utama di Nusantara.
Sejarah Mencatat...
1 ## Konsolidasi Kekuasaan dan Stabilitas Politik
- Periode ini bisa terbilang stabil dari pergolakan dan perebutan kekuasaan kurang lebih 22 tahun
- Mengatasi berbagai pemberontakan, seperti pemberontakan Sadeng dan Keta
2 ## Pengangkatan Gajah Mada sebagai Mahapatih
adl keputusan paling berpengaruh
- Mendukung Sumpah Palapa Gajah Mada dlm menyatukan Nusantara
- Menciptakan kemitraan pemimpin dalam ekspansi Majapahit
3 ## Ekspansi Wilayah
- adanya perluasan wilayah Majapahit di Nusantara
Selain itu di tahun 1343 berhasil menaklukkan Bali kemudian meluas mulai dr Sumatra hingga timur Nusantara
4 ## Diplomasi dan Hubungan Internasional
- hubungan dengan Tiongkok dan kerajaan lain di Asia Tenggara
- tahun 1332 Mengirim utusan ke dinasti Yuan dan masuknya Majapahit dalam jaringan perdagangan internasional
5 ## Pengembangan Ekonomi
- melalui perdagangan maritim
- Mengembangkan pelabuhan di pesisir utara Jawa
- pertanian dan produksi komoditas ekspor seperti beras dan rempah
6 ## Pembangunan Infrastruktur
- Membangun dan memperbaiki fasilitas jalan, irigasi, dan bangunan publik, serta sistem administrasi serta infrastruktur pemerintahan
- Mendukung pembangunan candi dan tempat ibadah
7 ## Pengembangan Sistem Hukum dan Administrasi
Serta Memperkuat sistem peradilan
- Mengembangkan struktur yang efisien dan reformasi tata kelola pemerintahan
8 ## Patronase Budaya dan Agama
- seperti seni, sastra, arsitektur, serta toleransi beragama Hindu-Buddha
- dan mengembangkan kebudayaan Jawa kuno di era Majapahit
9 ## Kepemimpinan dalam Krisis
- dgn cara ketegasan dan kebijaksanaan menghadapi tantangan internal dan eksternal
- Memimpin dan melewati periode sulit dengan kestabilan
- memimpin militer dan sipil
10 ## Penanaman Nilai Legitimasi Wanita sebagai Pemimpin
- contoh bahwa perempuan mampu memimpin kerajaan besar dengan efektif
- Mematahkan stereotip gender dalam kepemimpinan politik
- Membuka jalan bagi pemimpin perempuan lain di Nusantara.
Penutup
Tribhuwana Wijayatunggadewi meletakkan fondasi yang kuat untuk kejayaan Majapahit yang kemudian mencapai puncaknya di masa pemerintahan putranya, yaitu Hayam Wuruk.
Prestasinya dalam membangun stabilitas politik, mengembangkan ekonomi, dan memperluas wilayah membuat Majapahit bertransformasi dari kerajaan regional menjadi kekuatan utama di Nusantara.
Keputusannya untuk mengangkat Gajah Mada sebagai Mahapatih juga menunjukkan kecerdikan politiknya dalam memilih asisten yang tepat untuk merealisasikan visi besarnya.
-Galuh-

















Komentar